Jumat, 30 November 2012

PERTOBATAN, IMAN DAN PENGAMPUNAN


BAB I
PENDAHULUAN

            Manusia telah dalam keadaan berdosa.  Untuk memperoleh keselamatan, manusia memerlukan pengampunan.  Untuk memperoleh pengampunan harus ada pertobatan disertai dengan iman.  Dalam makalah ini penulis akan menguraikan tentang pertobatan, iman dan pengampunan yang terdapat dalam Perjanjian Baru.
            Untuk menyelesaikan makalah ini penulis menggunakan metode deskripsi dengan Alkitab sebagai dasarnya.  Harapan penulis, makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

BAB II
PERTOBATAN, IMAN DAN PENGAMPUNAN
A.  Dalam Kitab-kitab Injil Sinoptik

            Yohanes Pembaptis dan Yesus, keduanya memulai pelayanan mereka dengan seruan “Bertobatlah, sebab kerjaan Allah sudah dekat.” (Mat. 3:2; 4:17).  Allah pertama-tama memanggil orang untuk bertobat, dan dengan demikian pertobatan merupakan sambutan manusia kepada Allah. 
            Pertobatan bukan hanya sekedar menyesal, namun diperlukan perubahan secara utuh dengan tindakan nyata untuk meninggalkan dosa.  Derek Prime mengatakan, “Bertobat adalah berbalik dari dosa kepada Allah, sebagai buah pikiran dan hati tentang dosa.”[1]
            Yudas telah mengkhianati Yesus demi 30 kepin uang perak.  Ketika dilihatnya Yesus dijatuhi hukuman, menyesallah ia (Mat. 27:3).  Kata ‘menyesal’ menggunakan kata metamelhqeiV (metameletheis) yang berasal dari kata metamelomai (metamelomai) yang artinya “khawatir atau menyesal mirip naham, yaitu hati yang bertobat atau menyesal.”[2]
            Bukti dari pertobatan adalah mengaku dosa dan mohon pengampunan (Luk. 18:13-14), menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatannya (Mat. 3:8), taat kepada Roh Kudus (Mat. 26:28-29), dan menerima ajaran (Mrk. 1:4).
            Hasil dari pertobatan adalah dosanya diampuni (LUk. 24:47), malaikat bersukacita (Luk. 15:7, 10), berjalan pada jalan yang baru (Luk. 15:20).  Pertobatan diperlukan bagi semua orang yang ingin menjadi pengikut Kristus dan kewajiban bagi semua orang.

2.  Iman

            Dalam laporan Markus tentang permulaan pelayanan Yesus, pemberitaanNya yang pertama dikaitkan dengan iman dan pertobatan (Mrk. 1:15).  Kata ‘percayalah’ diterjemahkan dari kata pistenete (pistenete).  Anthony menjelaskan kata-kata yang paling serimh digunakan untuk iman di dalam Perjanjian Baru adalah bentuk kata benda pistis dan kata kerja pisteuin.  Pistis dapat dipergunakan dalam pengertian ‘iman yang dengannya kita mempercayai’, untuk menyatakan suatu keyakinan atas kebenaran dari suatu hal.  Kata kerja pisteuin memiliki arti berpikir bahwa sesuatu adalah benar (Mat. 24:23), menerima pesan Allah yang disampaikan oleh mereka yang ditunjuk oleh Allah (Kis. 24:14).  Tetapi yang lebih menonjol adalah menerima Yesus sebagai Mesias, sumber keselamatan kekal yang ditetapkan secara ilahi (Yoh. 3:16).  Dalam pengertian ini iman lebih daripada sekedar mempercayai kebenaran suatu pesan, iman di sini juga melibatkan kepercayaan kepada Kristus, berdiam di dalamNya dan bersandar kepadaNya.[3]
            Iman sangat ditekankan dalam mujizat penyembuhan, pun bila iman tidak disebut secara langsung tetapi selalu dicatat bahwa orang banyak datang atau dibawa untuk disembuhkan.  Dalam berbagai kesempatan dikatakan bahwa penyembuhan merupakan hasil langsung dari iman (Mat. 8:10, 13; 9:22, 29; 15:28; Mrk. 9:24; 10:52; 17:19).  Hasil ima menekankan perlunya iman kepada kuasa Yesus.  Iman dilihat Yesus sebagai alat untuk melihat hal-hal yang tidak mungkin (Mrk. 9:22).  Bagi Yesus, iman harus mempengaruhi perbuatan.  Iaman mengungkapkan diri dalam doa (Mat. 21:22; Mrk. 11:24).

3.  Pengampunan

            Dosa merupakan penghalang bagi manusia dalam persekutuannya dengan Allah.  Langkah awal kearah pemulihan persekutuan dengan Allah harus memberi tempat pada pengampunan dosa.  Markus 1:4 mengungkapkan seruan Yohanes Pembaptis supaya orang-orang bertobat dan memberi diri dibaptis.  Hal ini semakin berarti dengan “Allah akan mengampuni dosamu.”  Hal ini juga terdapat dalam Lukas 3:3, amanat pengutusan terakhir dalam Lukas 24:27 yang juga mengaitkan pertobatan dengan pengampunan.  Bagi Lukas pengampunan berakar dalam kasih Allah dan tidak menuntut apa pun dari pihak manusia (Luk. 15:11-32).
            Yesus memberikan hubungan natara pengampunan Allah bagi manusia dan pengampunan kepada orang lain. Ini nampak jelas dalam doa Bapa Kami (Mat. 3:12; Luk. 11:4).  Kata-kata dalam doa itu tidak dipisahkan dari ajaran Yesus lainnya.

B.  Tulisan-tulisan Yohanes

1.  Iman

            Dalam Yohanes, kata benda ‘iman’ tidak muncul namun kata kerjanya ‘percaya’ sering muncul.  Keseluruhan kitab ini ditulis supaya para pembaca ‘percaya’ (Yoh. 20:30-31).  Menurut Yohanes, keselamatan pasti merupakan buah dari iman (Yoh. 1:12).  Jadi iman adalah sarana yang olehnya orang diterima ke dalam suatu persekutuan baru, yang terlihat sebagai satu keluarga.
            Untuk mengerti arti iman dalam Yohanes, harus disadari bahwa ada beberapa tingkatan iman.  Walaupun seseorang mungkin belum mencapai kepenuhan iman, namun kedudukannya berbeda sekali dari kedudukan orang yang sama sekali tidak mempunyai iman.  Tatkala Thomas ragu-ragu Yesus berkata kepadanya, “Jangan engkau tak percaya lagi, melainkan percayalah.” (Yoh 20:7).  Iman orang-orang Samaria (Yoh. 4:40) berbeda dari iman yang dituntut daripada pembaca dalam hal percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah (Yoh. 20:30-31); walaupun demikian itupun adalah iman.
            Pada hakikatnya iman adalah tanggapan kepada undangan Allah.  Allah menampilkan AnakNya kepada manusia dan manusia wajib membuat keputusan tentang Dia.  Jika menerima, menaati, melihat dan mengenal Dia maka tanggapan itu bersifat positif.  Jika tidak menyambut Dia maka manusia tidak mempunyai iman.  Mereka digolongkan kepada orang yang telah menolak keselamatan yang disediakan Allah.

2.  Pengampunan

            Yohanes 20:23 menulis “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu mengatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”  Kata kerja diampuni dan dinyatakan tetap ada memakai bentuk perfektum.  Ini berarti bahwa kata-kata ini mengacu kepada suatu hal yang sudah terjadi.
            Surat 1 Yohanes, menjelaskan bahwa pengampunan ilahi merupakan kebutuhan yang terus menerus bagi orang percaya. ”Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yoh. 1:9).  Pernyataan ini memperlihatkan kebutuhan akan pertobatan selama hidup sebagai orang Kristen, dan tidak menyinggung soal pertobatan sebelum menjadi Kristen.  Pengakuan merupakan  syarat satu-satunya bagi pengampunan.

C.  Kisah Para Rasul

1.  Pertobatan

            Pada puncak khotbah Petrus pada hari Pentakosta, ketika para pendengarnya dalam keadaan “hati mereka sangat terharu”, Petrus menasehati mereka agar “bertobat dan memberi diri dibaptis untuk pengampunan dosa.”(Kis. 2:38).  Urutan ini, yaitu penginsyafan atas dosa, pertobatan dan pengampunan, sangat mirip dengan amanat dalam Kitab-kitab Injil Sinoptik.  Hubungan pertobatan dengan pengampunan yang sama terdapat dalam Kisah 3:19; di situ hasilya diungkapkan sebagai penghapusan dosa.  Pertobatan dan pengampunan dianggap sebagai karunia-karunia Allah yang dapat diterima dan langsung dihubungkan dengan pemuliaan Kristus (Kis. 5:31).
            Dalam Kisah sebagai keseluruhan, jelas bahwa pertobatan dipandanga sebagai syarat mutlak bagi orang agar dapat diterima ke dalam jemaat Kristen.

2.  Iman

            Dengan gamblang dikemukakan dalam Kisah Para Rasul hal memperlihatkan iman sebagai berdampingan dengan pertobatan dan sebagai milik orang Kristen yang tak terelakkan.  Persekutuan Kristen itu disebut “semua orang telah menjadi percaya.” (Yunani: hoi pisteuontes Kis. 2:44; bnd. 4:4, 32; 9:42; 11:21; 14:23). 
            Dalam Kisah, pengertian tentang iman kurang lengkap dari penjelasan penuh yang diberikan dalam surat-surat Paulus, walaupun demikian iman sama-sama dianggap mutlak perlu.

3.  Pengampunan

            Ada hubungan erat antara pertobatan dan penganpunan dalam Kisah 2:38; 5:31 dan 8:22.  pengampunan sebagai penghapusan dosa terlihat sebagai suatu pengantar kepada ‘waktu kelegaan’ (Kis. 3:19).  Dalam ayat-ayat ini yang dimaksudkan ialah dosa atau dosa-dosa tertentu dan pengampunan berarti penyingkiran rintangan.

D.  Paulus

1.  Pertobatan

            Kata kerja ‘bertoba’ muncul stu kali saja dan kata bendanya muncul empat kali.  Dalam II Korintus 12:21, Paulus prihatin bahwa beberapa warga jemaat Korintus belum bertobat dari dosa-dosa mereka dan ia khawatir bahwa ia harus berdukacita terhadap mereka disebabkan hal itu, bila ia mengunjungi mereka.  Dalam Roma 2:4 ia menantang pembacanya untuk mengingat bahwa kemurahan Allah dimaksudkan untuk menuntun kepada pertobatan.  Lawan dari pertobatan ialah kekerasan hati yang tidak mau bertobat (ay 5).
            Dalam II Timotius 2:24-25 hamba Allah dituntut untuk bertindak sedemikian rupa terhadap para penentangnya sehingga Allah mungkin memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat lalu sampai pada pengenalan akan kebenaran.

2.  Iman

            Pengajaran Paulus tentang iman sangat kaya dan merupakan ajaran yang paling beranekaragam dalam PB.  Jelas iman merupakan pusat pengalaman Paulus maupun teologinya.  Perolehan keselamatan baginya semata-mata dihasilkan oleh iman.  Paulus kadang-kadang menggunakan istilah pistis dalam arti kesetiaan Allah (Rm. 3:3; 1 Kor. 1:9; 2 Kor. 1:18; 2 Tim 2:13).  Allah dapat dipercaya sepenuhnya untuk memenuhi janji-janjiNya (1 Tes. 5:24).
            Bagi Paulus iman bukan sekedar tindakan awal untuk menerima karunia Cuma-Cuma dari Allah, melainkan mencakup suatu proses yang berkesinambungan.

3.  Pengampunan

            Kata benda afesis (pengampunan) hanya dua kali muncul dalam surat-surat Paulus (Ef. 1:7 dan Kol. 1:14).  Adalah bermakna bahwa dalam keua pernyataan ini pengampunan dikaitkan dengan penebusan, tetapi tak satu pun yang menyebutkan iman.  Hanya satu kali yaitu dalam Roma 4:7, Paulus menggunakan kata kerja ‘diampuni’ dalam satu kutipan dari Mazmur 32:1-2.

E.  Surat Ibrani

1.  Pertobatan

            Gagasan ini muncul tiga kali.  Pertama ditemukan dalam Ibrani 12:17 berhubungan dengan penolakan Esau.  Itu dikutip sebagai peringatan bagi mereka yang mungkin membayangkan bahwa akibat-akibat dosa yang disengaja bukanlah serius tetapi dapat diabaikan.
            Kedua, terdapat dalam Ibrani 6, dihubungkan dengan soal kemurtadan.  Pada Ibrani 6:1 para pembaca dinasehati agar jangan meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan yang sia-sia.
            Ketiga, Ibrani 6:4 merupakan pernyataan yang lebih sulit tentang pertobatan.  Ayat ini menegaskan ketidakmampuan pembaharuan pertobatan dari seseorang yang murtad.
            Pertobatan perupakan syarat yang perlu bagi seseorang untuk menerima bagian dari Roh Kudus, yang artinya itu merupkan syart mutlak dari pengalaman Kristen tentang hidup baru.

2.  Iman

            Tema iman lebih utama dari pertobatan dalam surat Ibrani.  Penulis surat Ibrani memahami iman sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1).  Di sini kata pistis tidak menggunakan kata sandang dan dengan demikian dapat dipahami dalam arti yang umum , walaupun ada sangkut paut dengan iman Kristen.  Jika terjemahan hupostasis (yaitu ‘dasar’) di sini sudah benar, maka pengertiannya adalahj bahwa iman merasa pasti bahwa apa yang diharapkan akan terjadi.  Pernyataan lebih lanjut, yang menggunakan perkataan ‘bukti’ (elengkhos) bisa menyarankan bahwa iman memberi wujud kepada apa yang tak bisa dilihat.

3.  Pengampunan

            Dalam arti tertentu dapat dikatakan bahwa surat ini memusatkan pendekatan manusia terhadap Allah.  Pengampunan disebut dua kali (Ibr. 9:22, 10:18).  Yang pertama menghubungkan dosa dengan pencurahan darah, yang memperlihatkan kaitan mendasar dengan system kurban.  Hal yang sama berlaku bagi ayat kedua yang berpendapat bahwa di mana ada dosa diampuni di situ tidak diperlukan kurban apapun bagi dosa.  Pengampunan dalam Perjanjian Baru masih didasarkan kurban, tetapi kurban yang tak dapat diualangi.

F.  Surat-surat Lain

1.  Pertobatan

            Tema ini hanya muncul dalam II Petrus 3:9, yang menekankan kerinduan Allah bahwa semua orang akan mencapai prtobatan.  Walaupun pertobatan tidak disebut Yakobus, namun ia memuji mereka yang membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat (Yak. 5:20).

2.  Iman

            Semua surat ini menyebut iman dan masing-masing memberikan sumbangan khas.  Yakobus mengakui bahwa para pembacanya beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia (Yak. 2:1).
            Dalam surat I Petrus keselamatan erat dikaitkan dengan iman (I Ptr. 1:9, 5).  Jika surat II Petrus dikirimkan kepada kelompok Kristen yang sama dengan I Petrus, tidaklah mengherankan bila mereka itu digambarkan sebagai “mereka yang memperoleh iman yang sama” (II Ptr. 1:2).  Sekiranyapun mereka adalah orang yang berbeda, surat ini merupakan tambahan kesaksian kepada pentingnya iman.
            Dalam surat Yudas yang agak mirip dengan II Petrus, para pembaca diminta membangun diri mereka sendiri di atas dasar iman, yang digambarkan sebagai iman yang paling suci (ay. 20).

3.  Pengampunan

            Dalam surat-surat ini hanya ada satu acuan khas kepada pengampunan yakni Yakobus 5:15, di mana doa yang lahir dari iman mempunyai kuasa untuk menyelamatkan seseorang yang sakit dan membawa dia kepada pengampunan Allah atas dosa-dosanya.
            Dalam I Petrus terdapat gagasan belas kasihan, walaupuntema pengampunan tidak ada.  Para pembacanya adalah mereka yang sekarang telah beroleh belas kasihan (I Ptr. 2:10).  Baik II Petrus maupun Yudas tidak menyebut pengampunan ataupun belas kasihan, tetapi Yudas berbicara tentang kuasa Allah untuk membawa umatNya “dengan tak bernoda di hadapan kemuliaanNya” (ay. 24).

G.  Kitab Wahyu

1.  Pertobatan

            Dalam kitab Wahyu gagasan pertobatan muncul tak kurang dari sepuluh kali, enam dari antaranya dalam pesan-pesan kepada jemaat-jemaat dalam wahyu 2 dan 3.  Jelas bahwa pertobatan yang dibutuhkan tidak bermaksud suatu perbuatan pada awal kehidupan Kristen, melainkan tantangan untuk memperbaharui cara hidup Kristen mereka.

2.  Iman

            Dalam kitab Wahyu ini kata pistis lazimnya berarti “kesetiaan”.  Kristus sendirilah “saksi yang setia” (Why. 1:4; 3:14). 

3.  Pengampunan

            Wawasan ini tidak muncul dalam kitab Wahyu, tetapi boleh jadi tersirat dalam gagasan tentang jubah orang-orang kudus yang dicuci dalam darah Anak Domba (Why. 7:14).  Umat Allah pastilah mereka yang sudah dibebaskan dari dosa-dosa mereka (Why. 1:5)

BAB III
KESIMPULAN

            Antara pertobatan, iman dan pengampunan ketiganya saling berhubungan dan tidak dapat dipisah-pisahkan.  Pertobatan dapat terjadi oleh karena iman, dan ketika ada pertobatan yang disertai iman maka terjadilah pengampunan.  Tidak ada satupun manusia yang luput dari dosa, dan manusia tidak mempunyai kuasa dan kemampuan untuk menghapuskannya.  Hanya Yesus Kristus saja yang sanggup untuk melakukannya.  Melalui pertobatan dan iman kepada Yesus maka pengampunan dapat terjadi,
            Meskipun mungkin pertobatan, iman dan pengakuan seringkali tidak dijelaskan secara tersurat namun tersirat, namun ketiganya menjadi tema yang selalu digemakan hampir di seluruh bagian dalam Perjanjian Baru.


[1] Derek Prime, Tanya Jawab Tentang Iman Kristen (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bia KAsih/ OMF, 1967), lm. 111.
[2] Peter Wongso, Soterilogi (Doktrin Keselamatan) (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1991), hlm. 50.

[3] Anthony A. Hoekema, Diselamatkan oleh Anugerah (Surabaya, Momentum, 2001), hlm. 189.

Selasa, 08 Mei 2012

MAZMUR 2:1-12



Mazmur 2:1-12

Nyanyian dari Mazmur 2:1-12 ini mungkin dinyanyikan pada hari pemahkotaan raja.  Hal ini didukung oleh ayat 1-3.  biasanya apabila ada pergantian takhta raja-raja taklukkan mengadakan permufakatan untuk memberontak.  Namun mungkin pula pada hari ulang tahun pemahkotaan tersebut.  Hal ini diisyaratkanoleh ayat 7 yang rupanya menunjuk kepada apa yang telah terjadi.
            Lasor mencatat tidak pasti apakah Mazmur 2 digunakan pada kebaktian pengurapan, atau  peringatan ulang tahun naiknya raja atas tahta, atau kedunya.  Menurutnya, mazmur ini menyoroti peranan raja dalam ibadat Israel, harapan dan hak yang dibebankan pada anak-anak Daud berdasarkan perjanjian Allah.[1]
            Bentuk nyanyian kitab Mazmur 2:1-12 ini terdiri dari empat bait dan setiap bait terdiri dari tiga ayat; ayat 1-3 lukisan (keheranan raja) tentang pemufakatan bangsa-bagsa melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya; ayat 4-6, pernyataan tentang reaksi Tuhan atas permufakatan tersebut, ayat 7-9, pernyataan raja tentang kekuasaan yang diberikan Tuhan kepadanya, ayat 10-12, peringatan raja kepada pemimpin dunia untuk bertindak bijaksana.
            Nyanyian ini termasuk 'jenis' mazmur raja'.  Marie C. Barth dan B.A. Pareira mencatat bahwa pasal-pasal yang termasuk dalam mazmur raja tidak memiliki pola dan ciri-ciri.  Karena ditinjau dari sudut isinya, latar belakang konkritnya cukup berbeda, mereka dikelompokkan dalam suatu jenis hanya karena kesatuan temanya, yakni karena berbicara tentang raja.[2] 
            Puisi terdiri dari baris-baris.  Setiap ayat puisi Ibrani pada umumnya terdiri dari dua baris atau bikolase, tetapi kadang-kadang juga tiga baris atau trikolase.  Puisi Ibrani mengenal dua macam irama, yakni irama tekanan suku kata dan irama arti.  Hal  yang lebih penting dalam usaha mengerti mazmur ialah mengenal irama artinya.  Yang dimaksud dengan irama arti ialah kesejajaran atau perimbangan gagasan atau pikiran antar baris.  Istilah yang lebih terkenal ialah paralelisme atau paralelisme membrorum.
            Paralelisme ini tampak dalam empat macam bentuk.  Paralelisme yang sinonim (searti), artinya gagasan dalam baris pertama (disebut pula kolon a) diperdalam dalam baris kedua (disebut pula kolon b) dengan kata-kata lain.  Paralelisme yang sinonim terdapat dalam Mazmur 2:3,
“Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka,
dan membuang tali-tali mereka.”

            Paralelisme yang antitesis, artinya baris kedua menegaskan gagasan dari baris pertama dari sudut yang berlawanan.  Dalam Mazmur 2 tidak terdapat paralelisme yang antitesis.
            Paralelisme yang sintetis, artinya baris kedua melanjutkan atau melengkapi gagasan dalam baris pertama.  Paralelisme yang sintetis terdapat dalam Mazmur 2:6,
Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion,
gunung-Ku yang kudus.
           
            Paralelisme perbandingan, artinya baris yang satu memperjelas gagasan dalam baris yang lain melalui suatu perbandingan.  Dalam Mazmur 2 tidak terdapat paralelisme perbandingan.
            Perikop dalam Mazmur 2:1-12 tidak terdapat imagery simile tetapi  banyak mengandung kalimat metafora yaitu kalimat perbandingan secara tidak langsung. 
            Ayat 4 terdapat kalimat,”Dia, yang bersemayam di surga tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.”  Secara literal Tuhan tidak 'tertawa' dan 'mengolok-olok' namun pemazmur menggambarkan bahwa Tuhan sedang tertawa dan mengolok-olok mereka yang bermufakat melawan Tuhan dan yang diurapinya sebagai bentuk pembelaan kepada yang diurapi-Nya.  Jadi, sebenarnya Tuhan tidak tertawa dan mengolok-olok.
            Ayat 8 terdapat kalimat,”Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.”  Pusaka secara harafiah adalah senjata namun disini dikatakan bahwa bangsa-bangsa akan diberikan sebagai milik pusaka artinya bangsa-bangsa akan diberikan sebagai jajahan dan dijadikan sebagai milik kepunyaan.  Demikian pula tidak ada ujung bumi.  Arti yang sebenarnya adalah bahwa kekuasaan raja yang diurapi akan sangat luas dan sangat berkuasa.

Tafsiran Mazmur 2:1-12
1.  Pemberontakan Bangsa-bangsa (ayat 1-3)

            Nyanyian ini dibuka dengan suatu pertanyaan keheranan sang raja melihat kegaduhan bangsa-bangsa tetangga yang berada di bawah taklukannya.  Raja-raja atau para pemukanya bangkit berkumpul dan mengadakan permufakatan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan sebagai orang taklukan.  Raja heran melihat permufakatan pemberontakan ini karena hal itu adalah sia-sia.  Sebab perbuatan ini tidak lain daripada melawan Tuhan dan yang diurapiNya.
            Kata 'bangkit' digunakan wb’C.y:t.yI (yìºtyaccübû), set yang artinya mengambil satu tindakan.  Kata wb’C.y:t.y berasal dari akar kata bc;y" yatsab {yaw-tsab'} yang mendapat awalan  t.y  dan akhiran w.  Hal ini menunjukkan bahwa kata ini merupakan  kata kerja imperfek orang ketiga maskulin jamak yang menyakantakan suatu tindakan, proses atau kondisi yang belum selesai dilakukan, bukan hanya itu, imperfek menjelaskan tentang tindakan yang akan diselesaikan tetapi juga yang belum dimulai.[3]  Mungkin ini adalah 'future' dari titik pandang saat ini.  Bentuk hithpael pada dasarnya mengekspreskan tindakan refleksif, yaitu suatu tindakan yang dilakukan oleh subjek kepada dirinya sendiri.
            Jadi, maksud dari kata ini adalah suatu tindakan yang sudah atau akan dilakukan oleh bangsa-bangsa, yaitu melawan yang diurapi-Nya, namun hal ini belum selesai dikerjakan.
            Guthrie mengatakan bahwa setiap pemberontakan melawa Allah dianggap tidak ada dasarnya.  Kekuatan kolektif bangsa-bangsa da suku-suku bangsa hanya akan merupakan persekongkolan yang sia-sia.[4] 
            Bart mencatat “Raja ialah yang yang diurapi Tuhan, tidak dapat dijamah . . . (1 Sam. 26:9).”[5]  Sedangkan Pfeifer mencatat “tidak masuk akal orang-orang yang berusaha memberontak terhadap ketetapan yang mahakuasa.  Pemberontakan mereka terhadap umat Allah dan rajanya dianggap sebagai serangan terhadap Allah sendiri.”[6]

2.  Jawaban Allah (ayat 4-6)

            Karena pemufakatan raja-raja dunia melawan “yang diurapi”, hal ini memicu pembelaan Allah turun atas umatNya.  “dia...tertawa...maka berkatalah ia”, ini merupakan sebuah antropomorfisme yang gamblang yang melukiskan perbedaan yang tajam di antara para raja kecil yang ketakutan dengan pemimpin tertinggi yang mengolok-olok mereka.  Kata tertawa qx'_f.yI dari akar kata qx;f' yang mendapat awalan yI berpola verb qal participle masculine singular.
            Partisipel adalah kata sifat yang berasal dari kata kerja, menggambarkan partisipasi dalam tindakan yang dilakukan oleh kata kerja.  Kata ini menjelaskan sesuatu yang sedang dilakukan secara berulag-ulang oleh orang banyak di masa sekarang.
            Kata tertawa disini bukanlah secara literal diterjemahkan bahwa Allah tertawa tapi ini hanyalah gambaran dari pemazmur yang menyatakan bahwa Allah menertawakan mereka yang bersepakat melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya.
            Tuhan bukanlah Allah yang tidak memperhatikan usaha pemberontakan ini.  Ia bukan hanya menertawakan mereka namun juga akan menyatakan kuasaNya dengan memberitahukan kepada mereka siapakah raja Israel itu.  Barth menuliskan,”Bukan manusia yang melantik raja Israel tetapi Tuhan sendiri.”[7] 

3.  Rencana Untuk Yang Diurapi (ayat 7-9)

            Ayat 7 dituliskan,”. . . Anak-Ku engkau!  Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.”  Pfeiffer menuliskan,”istilah kuperanakkan merupakan bagian dari perumusan adopsi di timur yang dipakai dalam hukum hamurabi.”[8]  Sementara itu Barth juga menuliskan bahwa gagasan raja sebagai putera dewa terdapat terutama di Mesir.  Raja dilahirkan dari persenggamaan dewa dengan permaisuri raja.  Namun gagasan kelahiran biologis dan misitis ini tidak terdapat di Israel.  Raja Israel menjadi putera Tuhan pada hari ini, artinya pada hari pemahkotaan.[9]
            Berdasarkan firman pengangkatannya menjadi putera Allah tersebut raja mempunyai hak dan kewajiban istimewa.  Tuhanlah yang memiliki segala bangsa, maka kepada putera bangsa-bangsa itu diberikan sebagai milik pusaka dengan menaklukkan  mereka.

4.  Nasihat Kepada Para Raja (ayat 10-12)

            Setelah menerangkan siapakah raja sebenarnya dalam hubungannya dengan Tuhan, mereka diperingatkan untuk bertindak bijaksana, menerima pengajaran Tuhan.
4.1.  Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut (ayat 11)
           
            Beribadah dalam bahasa Ibrani adalah b;[' `abad {aw-bad'} db[ berpola verb qal imperative masculine plural (kata kerja perintah maskulin jamak)  artinya melayani yang lain.  Raja yang diangkat sendiri oleh Tuhan diberikan perintah pengajaran untuk saling melayani.  Kata beribadahlah kepada Tuhan dengan takut memiliki pengertian supaya dapat saling melayani sebagai bukti takut kepada Tuhan   

4.2. Ciumlah kakiNya dengan gemetar (ayat 11)

            Ciumlah kakiNya dengan gemetar, dalam KJV dikatakan “Kiss the Son”(ciumlah putera).  Kata “ciumlah putera” rasanya sukar diterangkan; kata “putera” yang digunakan dalam naskah ibrani adalah kata Aram 'bar' dan bukan kata ibrani 'ben' seperti pada ayat 7.   Kata 'ciumlah putera' dalam teks dituliskan rb;‡-WqV.n:  (naššüqû-bar).  Owens menulis rB; (bar) noun  masculine singular (kata benda tunggal maskulin) a son (putera).[10] 
            Kata cium digunakan kata qv;n" (nashaq) yang artinya to touch gently (memegang/menyentuh dengan lembut) dengan stem verb piel imperative masculine plural.  Piel menyatakan tindakan yang sengaja dilakukan yang bersifat perintah.   Kata qv;n dalam bahasa Indonesia Terjemahan Baru diterjemahkan sebagai 'cium', dalam KJV diterjemahkan dengan 'kiss' (mencium/cium), dan dalam Bahasa Indonesia terjemahan Lama diterjemahkan sebagai 'hormatilah.' 
            Dalam tradisi Jawa, ketika ada seorang raja yang baru naik tahta atau dinobatkan menjadi raja, maka akan ada penghormatan kepada raja dengan cara berlutut dan menyembah.  Mungkin dalam tradisi Israel, dalam penobatan seorang raja maka sebagai bentuk penghormatan kepada raja yang baru adalah dengan cara menyentuh tahta raja.  Dengan demikian penulis lebih setuju bila kata qv;n" (nashaq) diterjemahkan sebagai penghormatan.
            Barth dan Pareira menjelaskan bahwa terjemahan Alkitab  mengikuti usul 'perbaikan' teks dari Bertholet.  Usul ini sekarang cukup banyak diterima.  Namun pada hemat mereka, 'perbaikan' ini rasanya agak sewenang-wenang karena mengndaikan perpindahan kata-kata yang cukup besar.  Barangkali kata-kata 'ciumlah putera' merupakan suatu tambahan untuk 'melengkapi gagasan pada ay 11 dengan penghormatan kepada 'putera allah' pula.[11]

Aplikasi

            Dalam hidup seringkali manusia dihadapkan dengan banyak musuh.  Dalam pekerjaan, pelayanan, masyarakat dan lain sebagainya.  Ketika ada banyak ancaman maka cara yang paling baik dan benar adalah datang meminta pertolongan kepada Tuhan dan menantikan pertolongan-Nya.





[1]               W.S. Lasor, D.A. Hubbard, F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 2 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hlm.55.
[2]               Marie C. Barth dan B.A. Pareira, Tafsiran Kitab Mazmur 1-72 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hlm.67.
       http://www.sabda.org/sabdaweb/tools/lexicon/?w=08851
[4]              Donald Guthrie, Tafsiran Alkitab Maza kini 2 Ayub-Maleakhi (jakarta: BPK Gunung Mulia, 1976), hlm.126.
[5]    Ibid., hlm. 131.
[6]           Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, the wycliffe bible commentary (Malang: Gandum Mas,2005), hlm. 122.
[7]               Barth, Op.cit., hlm. 132.
[8]               Pfeiffer, Op.cit., hlm. 122.
[9]               Barth, Op.cit., hlm. 133.
[10]             John Joseph Owens, Analytical Key to The Old Testament Vol. 3 (Michigan: Baker Book House, 1996), p. 261.
[11]            Barth dan Pareira, Op.cit., hlm.133.