Jumat, 30 November 2012

METODE DAN STRATEGI DALAM PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU


BAB 1
PENDAHULUAN

Metode dan strategi pembelajaran diperlukan untuk mendukung keberhasilan dalam proses pembelajaran.  Pemilihan metode dan strategi yang benar dalam proses pembelajaran akan dapat membatu meningkatkan minat dan kreatifitas belajar anak.  Hal ini juga mempengaruhi kemampuan anak dalam mengerti dan memahami materi pelajaran yang memungkinkan berhasilnya proses belajar mengajar.
Keberhasilan pebnggunan metode dan strategi belajar tidak hanya tergantung kepada kemampuan guru namun juga harus ada kemampuan dalam diri peserta didik.  Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, metode dan strategi pembelajaran juga diperlukan.  Pemilihan metode dan strategi pembelajaran sudah ada sejak pada masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.  Untuk itu, dalam makalah ini penulis hendak menjelaskan tentang pandangan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang Proses Pembelajaran yang melibatkan metode dan strategi pembelajaran.
            Dalam menguraikan setiap pokok dan sub pokok bahasan, penulis menggunakan metode deskripsi dan metode kepustakaan dengan menggunakan buku-buku sebagai bahan referensi.  Sebagai dasar kebenaran yang absolute, dalam menyelesaikan makalah ini penulis menggunakan Alkitab sebagai sumbernya.  Harapan penulis, makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.


bab II
Pandangan PL dan PB Tentang Proses Pengajaran
A.  Definisi Istilah

            Pengertian proses menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “Rangkaian tindakan, perbuatan atau pengolahan yang menghasilkan produk.”[1] Sedangkan pengajaran dijelaskan sebagai “proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.”[2]
            Sejalan dengan hal tersebut, Sardiman mengemukakan,”Pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing para pelajar aatu siswa di dalam kehidupan, yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh para siswa.”[3]
            Dengan demikian proses pengajaran dapat dipahami sebagai serangkaian tindakan yang menjadikan orang belajar.  Karena belajar adalah “Berusaha memperoleh kepandaian, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman”[4] maka proses pengajaran lebih merupakan serangkaian tindakan yang menjadikan orang berubah sebagai respon atas kepandaian atau pengetahuan yang diperolehnya.

B.  Pandangan PL Tentang Proses Pengajaran

            Proses pengajaran yang dilakukan oleh para pengajar terhadap yang diajar meliputi serangkain tindakan yang melibatkan metode dan strategi pembelajaran, yaitu:



1.   Metode

1.1.      Metode Menghafal (Ul. 6:4-9)
           
            Ayat 4,”Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa.” Merupakan “shema” atau pengakuan iman orang Yahudi yang artinya “dengarlah.”  Ayat ini memberikan konsep tentang Allah yang akurat.  Dia adalah Allah yang hidup, yang benar dan sempurna.  Tidak ada Allah lain, hanya satu Allah saja.  Ayat ini bersamaan dengan ayat 5 diucapkan sedikitnya dua kali sehari oleh orang Yahudi dewasa laki-laki.  Ayat ini diucapkan bersamaan dengan Ulangan 11:13-21 dan Bilangan 15:37-41.
            Ayat 7, menjadi tugas bagi orang tua untuk mengajarkan Firman kepada anak-anak dengan berulang-ulang.  Untuk lebih memudahkan dalam proses menghafal di ayat 8-9 dikatakan:”Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambing dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.  Tulisan hokum-hukum belum menjadi milik umum, namun demikian, Allah menghendaki mereka melakukannya supaya mereka terbiasa bergaul dengan hukum Allah.  Orang Yahudi mengerti perintah ini dan melakukannya secara harafiah.  Mereka mengenal 3 tanda-tanda untuk mengingat hokum Allah:
a.  Zizth           : Dipakai/ dipasang pada ujung jubah Imam (Bil. 15:37-41)
b.  Mezna        : Kotak kecil yang berisi Ulangan 6:4-9 diletakkan di sebelah
  kanan pintu
c.  Tephilin      : Dua kotak kecil berbentuk kubus masing-masing dari kertas
  perkamen yang ditulis dengan tangan secara khusus berisi 4 ayat
  yaitu: Keluaran 3:1-10, Keluaran 13:11-16, Ulangan 6:4-9 dan
  Ulangan 11:18-21.  Satu diikatkan di tangan kiri dan satu di dahi.

            Tanda-tanda ini dipakai pada saat sembahyang di luar hari Sabat.  Tanda-tanda ini sangat indah sebagai peringatan akan kehadiran Allah di rumah dan akhirnya dipraktekkan untuk mengusir setan.  Tanda-tanda simbolik ini dibuat supaya penekanan pemahaman ayat itu menjadi nyata sehingga pengajaran itu akan berlangsung terus menerus.[5]
           
1.2.      Metode Bercerita (Ulangan 1)

            Dalam Ulangan 1 Musa mengisahkan/ meriwayatkan pengalaman bangsa Israel.

1.3.      Metode Percakapan/ diskusi (Ayub 4-31)

            Dalam Ayub 4-31 terjadi percakapan/ diskusi antara Ayub dengan sahabat-sahabatnya yaitu Elifas, Bildad, dan Zofar tentang kemalangan yang sedang dialami oleh Ayub.

1.4.      Metode Ceramah (Kejadian 49:1-28)
           
            Beberapa tujuan dari metode ceramah adalah untuk menciptakan landasan pemikiran melalui produk ceramah, memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara gamblang dan menyinggung penjelasan teori dan prakteknya.  Dalam Kejadian 49:1-28, Yakub memanggil anak-anaknya dan memberitahukan kepada mereka apa yang akan mereka alami di kemudian hari.  Melalui hal tersebut Yakub ingin supaya anak-anaknya mengerti apa yang akan mereka hadapi.

1.5.      Metode Kerja Kelompok (Ezra 3:8-12)

            Metode kerja kelmpok adalah metode mengajar dengan mengkondisikan peserta didik dalam suatu group atau kelompok sebagai satu kesatuan dan diberikan tugas untuk dibahas atau dikerjakan dalam kelompok tersebut.  Pengelompokan peserta didik dalam suatu kelompok didasarkan paa fasilitas yang tersedia, perbedaan individual dalam minat dan kemampuan, jenis pekerjaan yang diberikan, dan jenis kelamin.
            Dalam Ezra 3:8-12 ini merupakan peletakan dasar Bait Suci yang pembangunanya melibatkan  Zerubabel, Yesua, para imam dan orang Lewi serta semua orang yang pulang dari tempat tawanan.  Mereka memulai pekerjaan ini dengan pembagian tugas.  Orang-orang Lewi yang berumur duapuluh tahun keatas mengawasi pekerjaan pembangunan rumah Tuhan.  Lalu Yesua serta anak-anak dan saudara-saudaranya dan Kadmiel serta anak-anaknya, orang-orang Yehuda bersama-sama bertindak mengawasi orang-orang yang melakukan pekerjaan membangun rumah Allah.

1.6.      Metode Demonstrasi (Keluaran 4:1-9)

            Ketika Musa hendak diutus Allah, Malaikat Allah menampakkan diri kepada Musa di dalam nyala api yang keluar dari semak duri.  Dalam setiap kesempatan Musa berusaha untuk menghindar dari tugas panggilan Allah.  Dalam Keluaran 4:2-5 Allah menyuruh Musa melemparkan tongkatnya dan berubah menjadi ular.  Selanjutnya  ayat 6-7 Musa disuruh untuk memasukkan tangannya ke dalam saku baju maka tangannya kena kusta putih, dan ketika ia memasukkan kembali tangannya maka pulilah kembali.
            Dalam ayat ini Allah mendemonstrasikan kuasaNya kepada Musa bahwa Ia akan menyertai Musa dengan kuasaNya untuk membawa Israel keluar dari Mesir.

1.7.      Metode Pemberian Tugas (Kejadian 1:28)

            Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya dengan maksud dan tujuan supaya manusia melaksanakan mandat Allah yang tertulis dalam kejadian 1:28:”…Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
            Metode pemberian tugas diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru untuk dikerjakan peserta didik baik secara perorangan atau kelompok.  Dalam ayat ini Allah sebagai guru dan manusia sebagai murid, Allah memberikan tugas yang harus dikerjakan oleh manusia.


1.8.      Metode Inkuiri

            Metode inkuiri bisa juga disebut sebagai metode penemuan.  Metode penemuan adalah cara penyajian yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru.  Metode penemuan melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental dalam rangka penemuannya.  Metode penemuan memungkinkan peserta didik menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.
            Dalam Kejadian 12, Allah telah memanggil Abraham untuk pergi dari negerinya dan dari sanak saudaranya dan dari rumah bapanya ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya.  Abraham belum mengerti kemana ia akan pergi dan bagaimana selanjutnya.  Namun Abraham tetap pergi.  Allah menggunakan metode inkuiri terhadap Abraham supaya Abraham dapat menemukan kembali informasi-infomasi yang diperlukan untuk dapat mengerti rencana Allah dan janjiNya kepada Abraham.

1.9.  Metode Perumpamaan

            Daud telah melakukan hal yang jahat di mata Allah dengan mengambil Betsyeba sebagai istrinya melalui cara yang tidak benar.  Tuhan mengutus nabi Natan kepada Daud dan meperingatkan Daud melalui perumpamaan seekor anak domba betina.

2.  Strategi Pembelajaran dalam Perjanjian Lama

2.1.  Strategi Pembelajaran Ekspositori

            Wina Sanjaya menuliskan beberapa karakteristik strategi ekspositori diantaranya strategi ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupaka alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering orang mengidentikan dengan ceramah.[6]
            Perkataan Yakub yang penghabisan kepada anak-anaknya yang tertulis dalam Kejadian 49:1-28 mempergunakan strategi pembelajaran ekspositori.

2.2.  Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

            Menurut Wina, dilihat dari segi psikologi belajar strategi pembelajaran berbasis masalah bersandar kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.[7]
            Ketika Daud melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dengan menikahi Betsyeba istri Uria, Natan datang kepada Daud untuk menegur Daud.  Dalam hal ini Natan menggunakan strategi berbasis masalah sebab Natan mengemukakan masalah kepada Daud melalui perumpamaan.  Melalui hal ini diharapkan ada perubahan tingkah laku dari Daud setelah menyadari kesalahannya.

C.  Pandangan PB Tentang Proses Pembelajaran

1.  Metode
1.1.  Metode ceramah

Metode ceramah sering digunakan oleh Tuhan Yesus khususnya pada permulaan pekerjaanNya ketika Ia berbicara dihadapan orang banyak. Salah satunya contoh metode ceramah yang dipakai oleh Tuhan Yesus dalam menyampaikan pengajarannya seperti yang terdapat di Kitab Matius pasal 5- pasal 7.  CeramahNya kadang-kadang disampaikan kepada orang banyak kadang-kadang kelompok kecil. Ada kalanya murid-murid saja yang hadir, ada kalanya campuran orang banyak, dan murid-muridNya Mimbarnya adalah lereng sebuah bukit.
Khotbah Tuhan Yesus di bukit dalam (Matius pasal 5 – pasal 7 ) ini adalah salah satu ceramah dibentangkanNya, hal ini menunjukkan mengenai keunggulan pengajaranNya atas Torat dan nabi-nabi.  Ceramah-ceramahNya mendorong orang berpikir dan menyelidiki hatinya sendiri, bersifat praktis dan penting. Ceramah-ceramah itu meliputi banyak persoalan, dan menunjukkan ketelitian dan persiapan. Semua itu berlainan gaya dan metodenya. Ceramah-ceramah itu demikian menarik perhatian dan menimbulkan minat sampai banyak orang kagum terhadap Yesus. “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya” (Matius 7:28 ). Bahkan para musuh takut menangkap Dia dan berkata, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu” Yohanes 7:46.

1.2.  Metode Tanya Jawab

Tuhan Yesus banyak memberi pertanyaan-pertanyaan kepada murid-muridNya dihadapan orang banyak. itu diungkapkan. “ Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? tidak ada lagi gunanya selain di buang dan diinjak orang” (Matius 5:13). Yesus memberi pertanyaan untuk menggugah pikiran pendengarnya mengenai garam dan fungsinya untuk dikaitkan dengan pokok pengajarannya perihal tugas murid-murid Yesus yang dipanggil untuk menjadi berkat ditengah-tengah dunia. Sama hal juga menemukan di dalam Matius 6:25-34 ; diunggapkan, Bukankah hidup lebih penting daripada makanan dan tubuh lebih penting daripada pakaian?” Pertanyaan yang Yesus ajukan memperkuat pernyataan yang ia tekankan mengenai pemeliharaan Allah bagi manusia. “Karena itu Aku berkata kepada kamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai
Metode Tanya jawab adalah salah satu metode yang tertua dan paling berpengaruh. Socrates yang terkenal karena metode itu . Metode ini di gunakan secara luas baik Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.Tuhan Yesus dalam pengajaranNya mengunakan pertanyaan sebagai suatu bahan pemikiran salah satu contoh pengunakan semacam itu adalah pertanyaan,”Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok di buang ke dalam api, tidaklah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” Pemikiran itu di mulai dengan hal yang kecil, lalu beralih kepada hal yang lebih besar. Untuk menyatakan maksudNya, Ia bahkan mengunakan pertanyaan yang mengadung pilihan.
Berikut adalah ciri-ciri ungkapan pendek sering jumpai dalam ucapan-ucapan Yesus seperti ,”Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan akan di ukurkan kepadamu “ ( Matius 4:24 ). Juga seperti pepatah ,”Yang seorang menabur dan yang lain menuai “(Yah. 4:3 7) dan “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”( Matius 6:21 ). Hal ini berarti, bahwa manusia dapat menjadi warga KerajaanNya, kalau setiap orang menyerahkan diri ( hidup dan hati )setiap orang seluruhnya kepadaNya. Yusus tahu, ( hati manusia ) sering terombang-ambing antara harta dengan Allah. Karena itu Ia mengingatkan semua orang, bahwa hal itu hanya dapat kita tiadakan, kalau harta yang memperoleh dari Dia.

1.3.   Metode perumpamaan

Tuhan Yesus menggunakan metode perumpamaan-perumpamaan salah satu yang diungkapkan. Dalam Matius 5:13-16 Yaitu tentang pelita ”Mata adalah pelita tubuh, jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. Artinya “mata yang baik mencerminkan hati yang baik” mata yang jahat mencerminkan hati yang cemburu dan kikir.
Dalam Matius 7: 3 menjelaskan:”Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Hal ini berarti: satu-satunya jalan untuk merobah sifat ini ialah: meminta kepada Tuhan, supaya Ia mengeluarkan balok berarti (dosa, kesalahan) itu dari mata manusia, sehingga orang bisa dapat melihat lagi dengan terang, seperti Ia kehendaki.

2.  Strategi Pembelajaran dalam Perjanjian Baru

2.1.  Strategi Pembelajaran Ekspositori

            Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru sebab dalam strategi ini guru memegang peran yang sangat dominant.  Melalui strategi ini guru menyampaikan materi secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan dapat dikuasai siswa dengan baik.
            Dalam khotbah di bukit (Matius pasal 5-7) Yesus menggunakan strategi ekspositori sebab Yesus yang dominan menyampaikan materi kepada pendengar.

D.  Relevansi Teologis-Praktis bagi Guru Pendidikan Agama Kristen Masa Kini
dalam Memahami Tugas dan Fungsinya

Era modern mengubah cara pandang para pendidik Kristen dalam mendidik anak. Toleransi tinggi dan keleluasaan tidak terbatas cenderung menjadi gaya pendidikan saat ini. Sebenarnya justru dalam era modern sekarang, pendidik Kristen harus menerapkan beberapa prinsip dalam Perjanjian Lama yang lebih disiplin dalam hal pendidikan anak.
Tujuan utama pendidikan Kristen adalah untuk mengajar anak-anak takut akan Tuhan, hidup menurut jalan-Nya, mengasihi-Nya, dan melayani-Nya dengan segenap hati dan jiwa mereka (Ulangan 10:12). Berlainan dengan pendidikan oleh dunia yang bertujuan untuk menciptakan generasi muda yang penuh ambisi untuk sukses, mandiri, dan percaya pada kekuatan diri sendiri, pendidikan Kristen mendidik anak-anak untuk memiliki sikap mementingkan Tuhan di atas segala-galanya, taat pada Tuhan, dan bergantung pada kekuatan Tuhan untuk terus berkarya. Nilai-nilai yang penting dalam pendidikan Kristen adalah kasih, ketaatan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk ditegur.
Pendidikan Kristen harus dilakukan secara terus-menerus melalui kata-kata, sikap, dan perbuatan (Ulangan 6:7). Kata bahasa Ibrani yang dipakai dalam ayat ini adalah "shinnantam", yang berasal dari akar kata "shanan" yang berarti mengasah atau menajamkan, biasanya pedang atau anak panah. Kata ini dipakai sebagai simbol untuk menggambarkan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang seperti orang mengasah sesuatu dengan tujuan untuk menajamkannya.
Tanggung jawab pendidikan Kristen memang bukan tugas yang mudah. Setiap zaman memiliki kesulitan dan pergumulan masing-masing, namun prinsip-prinsip dasar pendidikan Kristen yang Alkitabiah tetap bertahan di tengah berbagai teori pendidikan baru yang muncul.  Jika orang Israel menafsirkan Keluaran 13:9 atau Ulangan 6:8 secara harafiah dengan mengikatkan tali sembahyang pada lengan dan dahi mereka, maka saat ini yang sudah mengerti makna sesungguhnya dari perintah ini harus senantiasa merenungkannya dalam pemikirannya, mengatakannya setiap hari, dan melakukannya dengan segenap kemampuannya.
Proses pembelajaran tidak pernah lepas dari penggunaan metode dan strategi yang tepat guna mendukung keberhasilan proses pembelajaran.  Dalam Perjanjian Lama telah ditemukan dan digunakan berbagai metode dan strategi pembelajaran demikian juga dalam Perjanjian Baru.  Ada banyak metode dan strategi yang telah ditemukan bahkan masih sangat relevan digunakan sampai saat ini.  Pemilihan metode dan strategi yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan proses belajar.
Dalam memilih dan menggunakan metode serta strategi diperlukan kemampuan dari pengajar.
BAB III
KESIMPULAN


            Setelah melihat uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dunia pendidikan selalu berkembang.  Tetapi metode dan strategi pembelajaran telah diajarkan baik secara tersirat ataupun tersurat dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.  Meskipun metode dan strategi tersebut mengalami banyak perkembangan tetapi Alkitab menjadi dasar pendidikan hampir di segala bidang.
Dalam Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru pemilihan metode dan strategi yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran.  Oleh sebab itu seorang guru harus memiliki kemampuan untuk bisa memilih dan menggunakan metode dan strategi yang tepat supaya proses pembelajaran dapat berhasil dengan baik.














[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ,Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hlm. 791.
[2] Ibid., hlm. 14.
[3] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa, 2009), hlm. 12.
[4] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op.cit., hlm.14.
[5] http://www.sabda.org/pepak/pustaka/050836
[6] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran (Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2007), hlm. 177.
[7] Ibid., hlm. 211.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar